Menyelisik Pesan di Balik Lagu Rukun Sama Teman

Pagi hari di Spemdaba kembali dipenuhi aktivitas para murid yang bersiap mengikuti kegiatan upacara di sekolah. Dengan semangat dan keceriaan, para murid berkumpul bersama teman-temannya untuk memulai kegiatan. Di tengah suasana tersebut, kebersamaan menjadi salah satu hal penting yang perlu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Kembali mendapat jadwal bergilir, Spemdaba tampil menjadi petugas upacara pada Senin (7/9/2026). Sekolah telah mengambil kebijakan untuk menggilir peran sebagai petugas berdasarkan urutan kelas tertinggi. Sebelumnya, petugas upacara dipilih dari pengurus IPM, kali ini kelas IX-A yang mengambil peran.

Satu minggu sebelumnya, seluruh murid kelas IX-A mulai berlatih di sela-sela jadwal istirahat dan sepulang sekolah. Dengan ditemani oleh wali kelas, Dra. Lilik Mujianti, mereka berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Mereka belajar membariskan peserta upacara dan memastikan rangkaian acara berlangsung dengan lancar.

Melalui amanat pembina upacara, beliau mengambil topik tentang lagu Rukun Sama Teman yang dinyanyikan setelah Mars Muhammadiyah. Bu Lilik mengajak seluruh murid untuk senantiasa mengingat tentang pentingnya berbudaya rukun dengan teman. Tidak menutup kemungkinan, dalam berinteraksi, bersosialisasi, dan bergaul dengan teman dapat berjalan tanpa masalah. Terkadang, perbedaan pendapat, senda gurau, ketidaksengajaan, konflik antarteman mungkin saja terjadi. Karena itu, murid diajak untuk tidak menjadikan setiap perbedaan sebagai penyebab atau alasan saling menyakiti yang dapat mengacu pada perundungan atau bullying.

Pesan-pesan itu dikaitkan dengan lirik lagu Rukun Sama Teman yang kini menjadi bagian dari tata upacara bendera di sekolah. Lagu ini telah disahkan untuk masuk ke rangkaian pelaksanaan upacara bendera di sekolah berdasarkan SE Mendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026.

Lagu Rukun Sama Teman adalah karya dari Bapak Menteri Dikdasmen, Prof. Abdul Mu’ti yang dikenalkan sebagai bagian dalam upaya membangun school well-being, budaya sekolah yang aman dan nyaman. Lagu tersebut menggambarkan hubungan persahabatan yang tidak hanya di sekolah, tetapi juga di berbagai lingkungan. Dalam berteman, maka harus saling menghormati, tidak menyakiti, dan selalu membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Lagu ini bukan sekedar lagu untuk anak-anak, melainkan sebagai media untuk membangun karakter agar nilai saling menghargai dan kebersamaan dapat hadir dalam setiap cerita kehidupan anak-anak setiap hari.

Dalam lagu tersebut terdapat pesan, bahwa memiliki banyak kawan dan sahabat dapat membuat kita merasa senang, kuat, dan hebat. Maknanya bukan sekadar memiliki banyak teman, melainkan bagaimana pertemanan dibangun dengan sikap saling menghargai, peduli, membantu, dan mendukung.

Kerukunan pun sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menyapa teman, membantu ketika ada yang kesulitan, tidak mengejek kekurangan orang lain, serta mau meminta maaf dan memaafkan merupakan contoh kecil yang dapat menciptakan hubungan pertemanan yang lebih baik.

Sebagai guru BK, Bu Lilik juga menekankan bahwa rukun bukan berarti selalu memiliki pendapat yang sama. Dalam arti lain rukun bisa saja berbeda pendapat tetapi saling memahami. Bisa bercanda tanpa menyakiti atau menyinggung, bersaing tanpa menjatuhkan, dan setiap teman yang berbeda tetap mampu menghargai. Intinya inti dari amanat Pembina upacara.

Mari menerapkan dengan berani meminta maaf, menghargai perbedaan, menghentikan ejekan, dan berani berkata kita adalah teman. Sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya dibangun oleh aturan, tetapi juga oleh murid-murid yang mau saling menghargai, saling menjaga, dan tentu saja… rukun sama teman.

Penulis: Mawlana Jalalludin Rumi

Editor: Dwiki Ayu Pramudya, S.Pd.

Dokumentasi: Alfian Haris Budianto, S.M.

No Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *