
Tepat sehari sebelum Hari Kemerdekaan, Ahad (16/8/2026), halaman Masjid Al-Huda Balongpanggang mulai dipenuhi jamaah yang bersiap mengikuti kegiatan Ahad Pagi. Tidak hanya para jamaah, empat murid Spemdaba juga tampak mempersiapkan diri. Tiga minggu sebelumnya, mereka telah terpilih dan mulai berlatih untuk penampilan pagi itu.
Kembali mendapat giliran sebagai pengisi acara yang diselenggarakan oleh PCPM (Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah) Balongpanggang, lantunan Syahril Qur’an dari murid-murid Spemdaba pun bergema di pagi itu.
Egi, Syifa, dan Aulia bersiap tampil di hadapan jamaah, ditemani Rumi yang bertugas sebagai pemandu acara. Bagi mereka, berdiri di depan banyak orang bukanlah hal yang biasa. Rasa gugup bahkan telah mereka rasakan sejak malam sebelumnya. Namun, di balik rasa gugup itu, ada semangat yang terus mereka jaga untuk memberikan penampilan terbaik.
Rumi mengambil langkah lebih dahulu untuk memandu jalannya acara Ahad Pagi. Setelah pembukaan, giliran tim Syahril Qur’an tampil dengan membawakan tema berbakti kepada orang tua.
Secara bergantian, Egi, Syifa, dan Aulia menyampaikan pesan Al-Qur’an dengan lantang. Egi membacakan ayat Al-Qur’an, kemudian maknanya disampaikan oleh Syifa dan Aulia dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh jamaah.
Sekitar sepuluh menit berdiri di depan jamaah terasa menjadi bayaran atas latihan yang mereka jalani selama tiga minggu terakhir. Lebih dari sekadar sepuluh menit, bagi mereka, pengalaman pagi itu terasa jauh lebih panjang dari durasinya.
Hari itu mereka belajar mengendalikan rasa gugup, mengingat bagian masing-masing, menyampaikan pesan Al-Qur’an dengan percaya diri, dan berkolaborasi agar penampilan dapat berjalan dengan baik.
Pascatampilan Syahril Qur’an, acara dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Ustaz H. Ali Murtadho, M.H.I. dari Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto. Menariknya, pesan yang disampaikan terasa begitu dekat dengan apa yang baru saja dibawakan anak-anak.
Sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, Ustaz Ali mengajak jamaah merenungkan kembali makna kemerdekaan. Merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga terbebas dari kebodohan, kemalasan, dan penghambaan kepada selain Allah.
Al-Qur’an menjadi salah satu bekal penting dalam menjaga kemerdekaan tersebut.
Anak-anak perlu dikenalkan dengan Al-Qur’an, bukan hanya mampu membacanya, melainkan juga memahami dan mengamalkan pesannya.
Karena itu, penampilan Syahril Qur’an pagi itu menjadi sesuatu yang istimewa. Anak-anak tidak hanya membaca ayat, tetapi juga belajar memahami maknanya dan menyampaikannya kepada orang lain.
Ahad pagi pun berakhir. Anak-anak kembali menjadi murid seperti biasanya. Tetapi hari itu mereka pulang membawa satu pengalaman baru, yaki mereka pernah berdiri di depan dan berhasil menyampaikan pesan Al-Qur’an kepada banyak orang. Mungkin sederhana. Namun bisa jadi, dari keberanian kecil itulah akan tumbuh keberanian-keberanian yang lebih besar di masa depan.
Penulis: Jurnalis Spemdaba
Editor: Dwiki Ayu Pramudya, S.Pd.
Dokumentasi: Dwiki Ayu Pramudya, S.Pd.
No Responses